Visitors to this page

Kamis, 13 Februari 2014

Injil tanpa kata, cantik tanpa dandan

Renungan keluarga
1 Petrus 3:1-6

Bacaan kita kali ini menyangkut hubungan antara istri dan suami. Di dalam Alkitab, hubungan ini sudah dimulai sejak penciptaan. Kita dapat membacanya dalam Kejadian 2:18. Di sana Tuhan mengatakatan bahwa Ia mau menciptakan perempuan sebab tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. Untuk itu Allah menciptakan bagi manusia (Adam) seorang perempuan sebagai penolong. Dari sini jelaslah bahwa perempuan diciptakan karena laki-laki. Perempuan diciptakan karena tidak baik laki-laki (ish)tanpa perempuan (ishsha): “Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja” (Kej. 2:18a). Perempuan diciptakan supaya ia dapat menolong laki-laki: “Aku menjadikan seorang penolong yang sepadan dengannya” (Kej. 2:18b). Penolong yang sepadan artinya penolong yang cocok, yang pas, yang sesuai. Allah katakan: “tidak baik…”, bukan “tidak bisa…”. Frase “tidak baik” berhubungan dengan “nilai”, sementara “tidak bisa” berkaitan dengan “potensi” atau “kemampuan”. Dalam hal kemampuan, laki-laki dapat saja hidup sendiri, tanpa seorang istri, tetapi dari segi nilai atau norma atau makna, kehidupan seperti itu tidaklah baik di mata Allah.

Pembicaraan tentang hubungan ini kemudian muncul lagi dalam Kejadian 3:16, setelah peristiwa kejatuhan. Di sana dikatakan bahwa kesusahan dan kesakitan waktu mengandung dan melahirkan akan dibuat sangat banyak dan suami akan berkuasa atas istri. Di sini kita melihat hubungan antara istri dan suami mulai mengalami degradasi. Sebelum kejatuhan, istri  adalah penolong yang sepadan. Namun sesudah kejatuhan istri berada di bawah kekuasaan suami. Sebelum kejatuhan hubungan di antara istri dan suami adalah hubungan dalam kecocokan dan keharmonisan: hubungan di dalam kesepadanan. Hugungan di antara “yang tidak baik hidup sendiri” dengan “yang datang sebagai penolong yang cocok, yang membuat hidup laki-laki menjadi baik. Tetapi setelah kejatuhan, hubungan ini berubah menjadi seperti tuan dan hamba, pemimpin dan bawahan. Itu jelas sekali jika kika membaca 1 Korintus 11:3. Di sana dikatakan bahwa laki-laki adalah kepala dari perempuan. Rasul Paulus menekankan hal yang sama dalam Efesus 5:22-24. Kali ini tunduknya atau ketaataan jemaat kepada Kristus dipakai sebagai perbandingan. Dalam ayat 24 tertulis, “Karena itu sebagaimana jemaat tunduk  kepada Kristus, demikianlah istri kepada suami dalam segala sesuatu.” Demikian juga dalam Kolose 3:18, “Hai istri-istri, tunduklah kepada suami, sebagaiman seharusnya di dalam Tuhan.”

Sampai di sini mungkin ada di antara para istri atau calon istri yang berkata dalam hati: “Haaaa…? Taat dalam segala sesuatu….? Enak aja! Bagaimana kalau suami kurang ajar, suka jajan ke sana kemari, tidak mau menyerahkan semua gajinya kepada istri, tidak saja punya rekening rahasia, tetapi juga punya rekan tersembunyi alias Wanita Idaman Lain. Bagaimana kalau suami tidak jujur, tidak setia, dst. Apakah kepada suami seperti ini saya harus tunduk juga? Ah… yang benar saja.”  

Pertanyaan-pertanyaan yang bermakna dan bernada complain ini logis. Tidak ada seorang pun yang mau disemenamenakan, apalagi oleh orang terdekatnya. Biasanya sakit (hati) karena kesalahan orang terdekat jauh lebih berat dibanding dengan sakit yang ditimbulkan oleh orang yang jauh. Tetapi soal iman bukanlah soal logis atau tidak logis, melainkan soal ketundukan atau ketaatan. Ketaatan dalam soal iman bukanlah ‘ketaatan karena’ (taat karena dia baik, misalnya), melainkan ‘ketaatan meskipun’ (taat meskipun dia tidak baik, misalnya).

Mari memperhatikan bacaan kita! Dalam ayat 1 Petrus berbicara tentang bagaimana seharusnya sikap seorang istri terhadap suami dan apa tujuannya.  Ia mengatakan bahwa sikap yang baik, yang perlu ditunjukkan oleh seorang istri kepada suaminya adalah tunduk. Dalam bahasa Yunani, kata “tunduk” di sini berarti “taat”. Seorang istri - menurut bacaan ini - dalam hubungan kesehariannya dengan suami, mestilah menujukkan sikap “taat”. Kadar atau ukuran atau pedoman atau bisa juga contoh ketaatan itu adalah ketaatan Kristus kepada Allah. Sebab ayat ini dimulai dengan frase “demikian juga”. Frase ini merujuk kepada apa yang dibicarakan dalam pasal 2:18-24, yaitu nasehat kepada para hamba mengenai ketaatan (lih juga Tit 2:9-10). Mereka harus tunduk bahkan kepada tuan yang jahat sekalipun. Sakit karena ketaatan yang total seperti itu adalah kasih karunia (2:20b).  Itu jugalah yang telah Kristus kerjakan dan tinggalkan bagi mereka sebagai teladan/panutan. Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya (cacian dan makian) kepada Dia, yang menghakimi dengan adil (2:28). Meskipun Ia adalah Anak dan apa yang dialami-Nya bukan salah-Nya namun Ia taat, bahkan sampai mati dengan cara yang hina (lih Flp 2:8; Ibr 5:8).

Ketaatan tanpa tedeng aling-aling yang diminta Petrus dari para hamba itu jugalah yang harus dimiliki oleh para istri orang percaya saat itu. Sama seperti ukuran ketaatan hamba kepada tuan bahkan kepada yang kejam sekalipun berdiri di atas teladan Kristus, demikian jugalah ketaatan para istri. Dengan kata lain dasar atau ukuran ketaatan para istri kepada suami-suami mereka adalah ketaatan Kristus kepada Bapa. Adakah Kristus taat setengah hati? Adakah Ia taat hanya ketika keinginan-Nya dipenuhi? Atau apakah Ia hanya taat ketika tidak disakiti? TIDAK! Dalam segala hal Ia taat. Dia tidak membalas cambukkan para tentara Romawi. Cercaan dan hinaan saudara-saudara sebangsa-Nya pun diterima-Nya, Luda dan olokan dari tua-tua agama pun tidak dibalas oleh-Nya. Mengapa? Apakah karena Ia tidak mampu membalas? Ataukah kerena Ia memang bersalah? Tentu tidak! Bukan Dia tidak mampu membalas, juga bukan karena Dia memang bersalah, melainkan karena Dia mau taat kepada Bapa-Nya. Dia mau taat kepada apa yang menjadi misi dari kehadiran-Nya dalam wujud manusia sama seperti kita, yaitu ‘mati’ di salib untuk pengampunan dosa kita. Ketaatan seperti inilah yang diminta oleh rasul Petrus kepada para Istri untuk diikuti atau dijadikan pedoman. Istri harus taat bukan ketika suami setia saja, bukan ketika semua keinginan dipenuhi, bukan ketika suami tidak berlaku kasar, bukan ketika suami tidak mempunyai WIL,  melainkan dalam segala situasi.

Yesus bisa saja membalas kelakuan jahat para tokoh agama Yahudi dan tentara-tentara Romawi yang menyiksa dan meyalibkan Dia. Dia sendiri mengatakan kemungkinan itu ketika Dia menegur seorang murid-Nya yang memotong telinga seorang hamba Imam Besar. Pada saat itu Dia berkata, “Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barang siapa bermain dengan pedang, akan binasa oleh pedang. Atau kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku? Jika begitu, bagaimana akan digenapi apa yang ditulis dalam Kitab Suci, yang mengatakan bahwa harus terjadi demikian?” (Mat 26:52-54).  Yesus tidak mau menggunakan hak-Nya untuk membela diri. Dan ini dilakukan-Nya dengan sadar, supaya apa yang tertulis dalam Kitab Suci tentang Dia harus tergenapi, yakni melunasi hutang dosa manusia demi menyelamatkan mereka. Ini menunjukkan ketaatan-Nya, suatu ketaatan yang menuntut sikap rela menderita, atau membiarkan hak-hak-Nya tidak terpenuhi.

Orang Kristen diminta untuk meneladani ketaatan Kristus, yakni suatu ketaatan yang berujung pada kerelaan untuk tidak menuntut atau mengggunakan hak sendiri. Suatu ketaatan yang rela merendahkan diri sampai mati. Dalam Filipi 2:8 kita membaca bahwa Yesus dalam keadaan sebagai manusia, telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan mati dengan cara yang tidak wajar, yakni di kayu salib. Itulah harga dari sebuah ketaatan. Ketaatan Kristus bukan ketaatan “bonek” (bodok dan nekat), melainkan ketaatan berdasarkan pilihan dan pertimbangan yang sadar.

Ketaatan seperti inilah yang dipakai oleh Petrus untuk menggambarkan ketaatan seorang istri terhadap suami. Artinya bahwa seorang istri mestinya bersedia sakit hati karena suaminya. Sakit hati tidak saja karena seorang istri harus mengesampingkan atau lebih tepat meniggalkan hak-hak pribadinya demi suami, tetapi tuga karena sikap suami yang memang sering menyakitkan: mabuk, judi, malas ke gereja, kalau diajak berdoa atau baca Alkitab, katanya: “ah, kamu saja dengan anak-anak. Saya masih ada urusan lain.”  Tetapi untuk apa ketaatan seperti ini? Taat meskipun disakiti, taat meskipun dikhianati, taat meskipun tidak dipedulikan. Untuk apa semua ini?

Dalam ayat 1b bacaan kita tertulis: “… supaya jika ada di antara mereka (suami) yang tidak taat kepada firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan istrinya.” Inilah yang disebut dalam tema kita sebagai “Injil Tanpa Kata”. Sikap tunduk seorang istri terhadap suami dihapadan Allah ibarat sebuah pemberitaan Injil, yakni pemberitaan tanpa kata kepada suami. Dengan kata lain perempuan di dalam sebuah keluarga diangkat oleh Allah menjadi mitra kerja-Nya untuk pertobatan dan keselamatan suaminya. Dengan istilih yang sedikit lebih keren: para istri adalah penginjil keluarga. Injil artinya ‘kabar baik’. Jadi para istri adalah pembawa kabar baik bagi keluarga. Para istri adalah misinonaris keluarga.

Dari sini kita melihat bahwa ketaatan seorang istri tidak saja sebagai bukti dari cinta dan kasihnya kepada suami, malainkan juga merupakan saluran kasih Allah kepada suami. Dengan kata lain: seorang istri adalah pembawa cinta kasih Allah kepada suami.  Sama seperti sakit-Nya Kristus adalah bukti cinta kasih Allah kepada orang berdosa, demikianlah juga sakit para istri adalah bukti kasih sayang Tuhan kepada para suami yang nakal.

Karena itu seorang perempuan yang telah mengambil keputusan untuk meninggalkan kelajangannya dan menjadi istri, sadar atau tidak, telah menjawab panggilan Allah untuk menjadi penginjil bagi keluarga. Jadi pernikahan bagi seorang perempuan harus dilihat, tidak saja sebagai bentuk dari kesediaan untuk menjadi istri dan ibu bagi anak-anak, tetapi juga sebagai suatu kesediaan (disadari atau tidak)  untuk menjadi mitra kerja Allah bagi pertumbuhan iman dalam keluarga. Dengan kata lain: rumah tangga adalah ladang misi bagi seorang Istri.

Jadi jika ada suami yang setia, bersyukurlah! Sebab saudara diberi hak istimewa untuk menjadi suami seorang penginjil. Saudara diberi hak istimewa oleh Allah untuk hidup bersama dengan mitra kerja-Nya, yang Ia tempatkan secara khusus untuk saluran cinta kasih-Nya. Dengan begitu, maka ketidaksetiaan seorang suami terhadap istrinya sama dengan ketidaksetiaan kepada Allah yang telah mengutusnya untuk memelihara pertumbuhan iman keluarga.

Tetapi bagi suami yang tidak setia, yang cintanya ibarat kacang goreng: terbagi kemana-mana, mesti tahu bahwa kesetiaan istri adalah cara Tuhan untuk memberi kesempatan untuk berubah. Jangan memanfaatkan kestiaan dan ketaataan istri sebagai kesempatan untuk berbuat seenaknya.  Ada suami yang lebih mencintai masakan di restoran daripada masakan istri; ada juga yang mencintai komputernya, mobil barunya dan pekerjaannya  lebih dari istrinya; ada pula yang merasa lebih enak tidur kamar hotel daripada di kamarnya sendiri bersama istrinya; ada juga yang merasa lebih enak ngobrol dengan teman kerja di kantor dari pada dengan istri dan anak-anak di rumah.

Menghadapi suami seperti ini tentu menyakitkan. Untuk mengubahnya pun tidaklah gampang. Tetapi tidak berarti tidak mungkin. Kecemburan dan sikap kasar, pertanyaan yang bertubi-tubi, serta sikap emosional tidak akan menbuat dia berubah. Sebaliknya, yang dapat mengubah dia adalah Allah.

Karena itu biarlah injil atau kabar baik - yakni kabar tentang cinta kasih Allah - mengalir melalui perlakuan dan sikap. Jika suami marah-marah, berusahalah membalas dengan rangkulan dalam kelembutan. Pada saat suami kelihatan tidak setia lagi, ingatlah bahwa anda telah dipilih oleh Allah untuk menjadi penginjil baginya. Tunjukkanlah kepadanya cinta kasih Allah melalui sikap yang manis, tutur kata yang lembut dan santun, serta doa dan pujian kepada Allah yang tulus.

Jadikan dirimu cantik di hadapan suami bukan dengan berdandan yang berlebih-lebihan, bukan dengan perhiasan dan pakaian yang mahal-mahal. Ayat 3 dan 4 dari bacaan kita berbunyi: “Perhiasanmu janganlah  secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-epang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah.” Inilah yang disebut dalam tema kita “cantik tanpa dandan”. Kecantikan tanpa dandan adalah kecantikan akhlak, kecantikan sikap, kecantikan tutur kata. Inilah yang di dalam psikologi disebut dengan psychological makeup. Dalam bahasa Indonesia bisa kita sebut dengan ‘perhiasan jiwani’.  Semua ini berasal dari hati.

Jadilah “penginjil tanpa kata, dan cantik tanpa dandan”.


Amin