Visitors to this page

Minggu, 25 Januari 2015

BLUSUKAN KERJA ALLAH

Renungan Natal  2014
(Luk. 2:16)




Setiap tahun orang Kristen merayakan Natal. Tetapi jika ditanya apakah natal itu, jawabannya tidak selalu sama, sebab makna dan pesan natal selalu disesuaikan dengan  atau lebih tepat ‘disetir’ oleh kebutuhan atau kepentingan komunitas yang merayakannya.

Jika mereka yang merayakannya adalah orang-orang ‘kecil’ atau mereka yang peduli terhadap orang-orang kecil,   maka natal dimaknai sebagai wujud perhatian Allah kepada orang-orang susah, yakni mereka yang hidup dalam kekurangan dan kemiskinan, entahkah secara ekonomis, politis, maupun sosial.  Untuk orang-orang seperti ini, Allah dipandang sebagai pemerhati, pelindung dan pembela hak orang-orang lemah.

Sebaliknya, jika mereka yang merayakannya adalah orang-orang ‘besar’, maka natal dimaknai sebagai ungkapan kerendahan hati. Allah yang mahatinggi berkenan merendahkan diri-Nya menjadi manusia. Pemahaman yang positif! Namun, bagi golongan ini, natal juga dapat menjadi ‘kenderaan’ untuk mencapai tujuan-tujuannya, terutama secara politis. Tuhan dan perayaan-perayaan agamawi menjadi ‘tumpangan’ yang  - dalam konteks Indonesia - masih sangat laku.

Natal juga selalu identik dengan kumpul-kumpul keluarga, kado dan open house. Natal dengan latar belakang seperti ini dimaknai sebagai momentum saling memaafkan dan berbagi.  Anggota keluarga yang berselisih berkunjung dan bermaaf-maafan. Lalu mereka yang berkemampuan secara ekonomis berbagi dengan yang berkekurangan. Para tokoh,  entahkah masyarakat atau politis, menjadikan momentum ini sebagai ajang konsolidasi dan penggalangan.  Pertanyanyaannya adalah INIKAH NATAL?

Berdasarkan tema nasional PGI dan KWI 2014, natal adalah sebuah perjumpaan dengan Allah di dalam keluarga. Dengan tema ini, perhatian kedua lembaga gerejawi tingkat nasional ini jatuh pada pentingnya kehadiran Allah dalam keluarga serta sentralnya peran keluarga dalam sejarah keselamatan. 

Itu berarti natal adalah sebuah perjumpaan. Dan perjumpaan selalu dimulai dengan sebuah kinesis atau gerakan.  Dalam kaitan dengan hubungan antara Allah dan manusia, gerakan untuk berjumpa dimulai dari pihak Allah. Sejak kejatuhan, Allah-lah yang bergerak mencari manusia (bdk. Kej. 3:8 dst.). Maka natal adalah salah satu peristiwa dalam ‘gerakan’ Allah berjumpa dengan manusia dalam sejarah keselamatan, yang mengalami puncaknya dalam paskah.

Jika gerakan Allah untuk mencari dan berjumpa dengan manusia ini dicarikan padanannya yang sedang hangat saat ini, maka kata yang cocok adalah ‘blusukan’.

‘Blusukan’ adalah kata yang mulai popular di Indonesia sejak tahun 2012, ketika Joko Widodo menjadi Gubernur DKI Jakarta. Sifat kepemimpinannya ditandai sangat kuat oleh gaya ‘blusukannya’.  Gaya itu terus diperlihatkan setelah ia menjadi orang nomor 1 di negeri ini.  Dalam kurun waktu kurang dari 2 bulan ia sudah mengunjungi beberapa wilayah di negeri kepulauan nan luas ini, terutama di daerah-daerah yang sedang mengalami bencana dan masalah. Ia memaknai kepemimpinan sebagai menemui rakyat kecil dan mendengar keluhan mereka secara langsung. Ia bahkan tidak merasa terhina masuk ke dalam selokan sekalipun. Baginya, ciri kepemimpinan bukanlah ruang dan kursi serta meja kerja yang wah, protokoler yang rumit, birokrasi yang berbelit-belit, setelan jas dan dasi impor, rapat-rapat kerja di hotel berbintang, melainkan kesederhanaan dan kerja. Itulah sebabnya kabinetnya pun disebut kabinet kerja.  Ia memaknai kepemimpinan sebagai mencari dan menemukan, bukan dicari dan ditemui - yang sudah berakar berurat dalam sistem feodal.

Jadi natal boleh disebutkan sebagai ‘blusukan kerja’ ( Martin Chen, Direktur Puspas Keuskupan Ruteng, Flores, NTT, menyebutnya ‘blusukan’ illahi).  Untuk berjumpa dengan manusia yang telah terpisah dari,  bahkan menjadi seteru-Nya karena dosa (lih. Rm. 5:10; 11:28), Allah melakukan ‘blusukan kerja’: mencari dan menemukan yang hilang (Yeh. 34:12; Luk. 19:10).

‘Blusukan kerja’ dalam rangka mencari dan menyelamatkan ini dimulai sejak Kejadian 3. Sejak saat itu, Allah berjanji - dalam perjumpaan-Nya dengan Adam dan Hawa itu - bahwa suatu saat nanti akan lahir satu keturunan perempuan, yang akan mengakhiri persahabatan dengan si jahat karena dosa dengan jalan meremukkan kepala ular (Kej. 3:15). Sejak saat itu, Alkitab mencatat peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah keselamatan yang merujuk pada pemenuhan janji ini. Sebut saja beberapa contoh: diluputkannya Nuh dari air bah, panggilan Abraham, kelahiran Isak, pemilihan Israel dan nubuat-nubuat tentang kelahiran seorang Mesias (mis. Yes. 9 dan Mi. 5).  

Semua peristiwa sejarah dan nubuatan ini adalah gambaran dan janji tentang Mesias, sang Putra natal. Penggenapannya terjadi dalam peristiwa persalinan dalam sebuah kandang di kota kecil, Betlehem.  Tujuannya adalah menolong manusia dari ketidakberdayaan karena perbudakan dosa. Maka natal adalah ‘blusukan kerja’ Allah demi kelepasan manusia.

Hal ini terlihat terang benderang dalam kehidupan dan kepemimpinan Yesus. Ia berkeliling ke semua kota dan desa untuk menolong mereka yang lelah dan terlantar seperti domba tak bergembala (Mat. 9:35-36).  Ia ‘blusukan’ sebagai utusan Allah untuk menyelamatkan dunia (Mat. 1:21; Yoh. 1:29), untuk memberdayakan dan membela mereka yang miskin, tertawan dan tertindas (Luk. 4:18-19). ‘Blusukan’ penyelamatan ini didasarkan atas kasih (Yoh. 3:16), bukan atas kepentingan. Tidak jarang Ia mengecam keras para pemimpin agama dan politik yang mengeksploitasi rakyat kecil demi harta dan takhta. ‘Ular beludak’! itulah istilah yang cocok untuk orang-orang terkemuka saat itu (lih. terutama Mat. 23).

Kepada wong cilik Ia menunjukkan kasih, tetapi kepada para pemimpin Ia memberi perintah untuk belajar berbuat kasih (Luk. 10:37). Ia memberi nasihat kepada orang banyak dan murid-murid-Nya untuk menaati pemimpin mereka karena mereka menduduki kursi Musa, tetapi jangan mengikuti kelakuan mereka lantaran mereka hanya berteori (Mat. 23:1-3)

Yesus, yang hari lahir-Nya kita rayakan secara besar-besaran setiap tahun, telah mengajari kita bahwa natal adalah kerja, bukan pesta. Natal adalah menjumpai untuk membebaskan dan menyelamatkan, bukan hura-hura. Natal adalah jembatan ‘blusukan’ Allah demi pemberdayaan mereka yang dibiarkan tidak berdaya, miskin dan terabaikan. Natal bukan aksi-aksi seremonial yang penuh dengan intrik-intrik kepentingan. Natal adalah kerja Allah demi keselamatan dan kesejahteraan manusia dengan jalan menjadi sama dengan manusia. Dengan Natal, Allah melakukan aksi ‘blusukan’ guna menjawab kebutuhan manusia. Maka Natal dapat dimaknai sebagai ‘blusukan kerja’ Allah  untuk berjumpa dengan manusia yang terbentuk dalam keluarga.

Untuk apa? Tentu saja bukan supaya Dia semakin besar, semakin berkuasa, semakin dikenal; melainkan untuk menolong. Ia lahir bukan untuk diri-Nya melainkan untuk kepentingan dunia yang telah rusak dan terpisah dari-Nya karena dosa. Itu sebabnya natal tidak bisa dipisahkan dari paskah; Betlehem tidak ada maknanya jika Golgota tidak disinggung. Natal dan paskah, Rumah Roti dan Bukit Tengkorak adalah dua peristiwa dan tempat yang penting bagi sejarah dan iman Kristen.

Setiap kali kita merayakan natal, setiap kali itu pula kita memperingati hari ‘blusukan kerja Allah’ menjadi manusia itu. Dalam natal Allah berkerja untuk menjumpai manusia dan menawarkan pengampunan dosa. Dalam natal Allah berjumpa dengan manusia di dalam Yesus. Di dalam Dia ada jalan keluar dari kematian kepada kehidupan. Natal adalah aksi Search and Rescue, SAR,  dari Allah

Sekarang, Yesus telah menyelesaikan tugas penyelamatan-Nya dan sedang berada di sorga. Sebelum kenaikan-Nya ke sorga, Ia telah memberikan perintah ‘blusukan penyelamatan’ - yang dikenal dengan Amanat Agung - kepada para rasul dan gereja-Nya  (Mat. 28:19-20; Mrk. 16:15-16; Luk. 24:46-47: Yoh. 15:16; Kis. 1:8) karena masih banyak domba-Nya yang di luar kandang (Yoh.  10:16).

Itu berarti bahwa setiap kali kita merayakan natal, kita secara sadar atau tidak mengaku terlibat dalam ‘blusukan penyelamatan’ ini. Kita yang merayakan natal adalah kita yang bekerja, kita yang melanjutkan ‘blusukan kerja’ Allah untuk menjumpai dan menyelamatkan yang hilang.

Kita yang merayakan natal, mestilah kita yang telah berjumpa dengan Allah dan yang berkomiten untuk bekerja, mengajak orang lain juga berjumpa dengan Dia!

Amin!