Visitors to this page

Kamis, 23 Juli 2015

GEREJA (Bagian Dua)



Di manakah tempatmu?

Pdt. Marianus T. Waang 

Dalam edisi lalu saya telah menulis mengenai siapa Gereja itu. Gereja adalah orang-orang pilihan Allah di dalam Kristus. Gereja tidak bisa ada tanpa Kristus! Gereja bukanlah LSM. Sebaliknya Gereja adalah tubuh Kristus, rumah rohani, imamat yang kudus dan rajani, bangsa yang terpilih dan kudus milik Allah. Gereja ada karena Allah dan hidup untuk Allah.  
Masih mengenai Gereja, kali ini pokoknya adalah tempat di mana Gereja itu berada: di sorga atau di dunia?  

Dalam salah satu nasihat kepada jemaat di Filipi, Paulus mengajak Gereja di sana untuk mengikuti teladannya dan rasul-rasul yang lain. Mereka diminta untuk tidak hidup seperti orang-orang yang menjadi seteru salib Kristus, sebab orang-orang seperti ini tidak memiliki masa depan, tidak ber-Tuhan dan tidak bermartabat. Orientasi hidup mereka adalah perkara-perkara dunia ini.  Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi” (Flp. 3:19).

Dasar nasihat Paulus ini adalah soal kewarganegaraan jemaat di Filipi. Mereka adalah warga Kerajaan Sorga (Flp. 3:20). Yesus sudah mengatakannya lebih dahulu: “… mereka bukan dari dunia sama seperti Aku bukan dari dunia” (Yoh. 17:14b, 16); “…kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia” (Yoh 15:19).

Yesus pergi kepada Bapa - di sorga, tetapi murid-murid-Nya masih di bumi; mereka ditinggalkan di dalam dunia (Yoh. 17:11, 13). Ia tidak meminta supaya Bapa mengambil mereka dari dunia ini, tetapi supaya Bapa menjaga mereka dari yang jahat (Yoh. 17:15).

Ayat-ayat ini memperlihatkan bahwa kewargaan orang percaya adalah Sorga. Meski begitu, dunialah tempat domisili kita dalam periode sementara[1] ini. Gereja tidak boleh menarik diri dari dunia, yang sekarang ini.  Di sinilah tempat Gereja bersaksi dan beraksi sebagai duta-duta Kerajaan Sorga.

Gereja dapat diumpamakan dengan kapal[2]. Sama seperti tempat kapal adalah laut atau sungai, demikianlah tempat Gereja adalah dunia ini. Kapal yang baik pasti berada dan berlayar di laut atau sungai. Demikian jugalah gereja yang baik pasti berada  dan berkarya di dunia.

Sama seperti kapal aman di laut selama tidak ada laut di dalamnya, demikian jugalah gereja aman di dunia selama dunia tidak ada di dalamnya. Gelombang yang hebat dan badai yang kencang dari luar tidak akan mampu menenggelamkan kapal, jika tidak ada air laut yang masuk ke dalam kapal dan memenuhinya.

Demikian jugalah Gereja. Semua tantangan dan ancaman dari luar tidak akan menghancurkannya selama ‘dunia’ tidak ada di dalam dan memenuhinya.

Gereja juga dapat diibaratkan seperti ikan di laut. Laut itu asin. Tetapi ikan yang lahir, besar dan hidup di dalamnya tidak terhisap dalam keasinan laut itu. Seberapa lamakah ikan itu tetap tidak terpengaruh oleh keasinan laut? Selama ikan itu masih hidup! Setelah mati, ikan itu akan menjadi asin. Demikian jugalah Gereja. Dunialah tempat Gereja. Pengaruh dunia tidak akan merasukinya, selama ia hidup. Gereja yang mati adalah Gereja yang melakukan aktivitasnya secara duniawi. Agar tidak mati, Paulus memberi nasihat agar kita tidak berjuang secara duniawi (1Kor. 10:3).  

Dunia inilah tempat Gereja hidup dan berkarya sebagai utusan Allah. Meski demikian, satu hal perlu diingat secara baik: dunia ini tempat tinggal sementara. Dunia ini padang ziarah! Gereja tidak sedang TINGGAL atau MENETAP di dunia ini. Gereja sedang DALAM PERJALANAN. Maka ingatlah pesan Tuhan Yesus: “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.  Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya” (Mat. 6:19-20).

Di satu sisi, ngengat merusak harta. Maka janganlah kumpulkan harta di bumi. Di sisi lain, harta pada gilirannya dapat merusak pengumpulnya. “Di mana hartamu berada, di situ hatimu berada” (Mat. 6:21). Harta adalah bank hati pemiliknya. Ia berpotensi besar mengalihkan hati kita dari Tuhan. Dan jika itu terjadi, rusaklah kita.

Sebagai Gereja, tempat kita – orang-orang percaya – adalah dunia ini. Tetapi kita tidak menetap! Kita sedang dalam perjalanan! Orang perjalanan mengumpulkan dan membawa secukupnya saja. Terlalu banyak membawa, memberatkan langkah, bahkan dapat menggagalkan perjalanan! “… cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu…” (Ibr. 13:5; bdk. Luk. 3:14). 


God bless!





[1] Periode sementara adalah periode antara kedatangan Kristus yang pertama dan kedua.
[2] Lihat Bulletin STTR edisi 1, no. 1, November 2014, hlm. 6-7