Visitors to this page

Selasa, 04 Agustus 2015

GEREJA (Bagian Tiga)



 Kenalilah dirimu

Pdt. Marianus T. Waang

Dalam edisi November ‘14 dan Maret ‘15, kita telah membahas siapa Gereja itu dan di mana tempat tinggalnya. Gereja bukanlah LSM, melainkan tubuh Kristus, rumah rohani, imamat yang kudus dan rajani, bangsa yang terpilih dan kudus milik Allah. Kita juga telah melihat bahwa Gereja memiliki dua kewargaan: sorga dan dunia. Dan untuk sementara, tempat domisili Gereja adalah dunia ini. Karena dunia hanyalah ‘tumpangan’, maka fokus Gereja haruslah bukan dunia ini dengan segala kesemarakannya melainkan sorga – rumah Bapa, tempa tinggal yang kekal! Gereja adalah ORANG PERJALANAN!

Kali ini kita akan membicarakan ciri-ciri Gereja. Anggaplah tulisan kali ini sebagai cermin untuk berkaca, apakah ‘dandanan’ kita – Gereja – telah sesuai dengan kesukaan Sang Mempelai.

Pasal 29 Pengakuan Iman Gereja Belanda (selanjutnya PIGB) berbicara tentang perbedaan antara Gereja sejati dan gereja palsu dengan menguraikan ciri masing-masing. Gereja yang sejati  memperlihatkan ciri-ciri yang berikut: 1) pemberitaan Injil yang murni (Yoh. 8:31, 47; 14:23; Gal.1:8-9; 2 Tes.2:15; 2 Tim.3:16-4:4; 1 Yoh.4:1-3; 2 Yoh.9-11); 2) pelayanan sakramen-sakramen yang murni sebagaimana ditetapkan Kristus (1 Kor.10:14-17,21; 11:23-30); dan 3) penyelenggaraan disiplin gereja (Mt.18:17; Kis.20:28-31a; Rm.16:17-18a; 1 Kor.5:1-5,13; 14:33,40; Ef.5:6,11; 2 Tes.3:14-15; 1 Tim.1:20; Titus 1:10-11; 3:10; Why.2:14-16a; 2:20). 

Sementara itu gereja paslu adalah mereka yang menganggap diri dan aturannya lebih berkuasa daripada Firman Allah, serta tidak melayankan sakramen-sakramen dengan cara yang ditetapkan Kristus (mengurangi dan menambahi sesuka hatinya). Meskipun ciri gereja yang sejati banyak, namun tiga yang di atas cukup sebagai tanda pengenal.

Ciri pertama adalah pemberitaan Injil yang murni. Memang tidaklah gampang menentukan apakah gereja tertentu masih sejati atau sudah palsu dari segi pemberitaan. Alasannya sederhana: semua mengaku ajarannya alkitabiah. Meski begitu, ada contoh yang cukup jelas, misalnya Saksi Yehova, yang menyangkal keilahian Yesus Kristus dan mengajarkan keselamatan atas dasar perbuatan manusia

Di samping itu ada juga gereja-gereja yang liberal, yang menganggap Yesus  hanya manusia sejati, bukan Allah. Gereja-gereja seperti ini lebih menekankan aspek sosial dalam pemberitaan mereka. Mereka tidak memberitakan injil yang murni, tetapi injil yang lain. 

Ada pula Gereja, yang meskipun mengaku atau percaya bahwa Yesus adalah Manusia dan Tuhan seutuhnya dan bahwa Alkitab adalah Firman Allah, dan bahwa di luar Kristus tidak ada keselamatan, toh dalam praktiknya mereka hanya mengutakan aksi sosial sebagai wujud kasih Allah dan mengesampingkan bahwa mengabaikan berita tentang pengampunan dosa di dalam Kristus. 

Yang lain lagi, meskipun percaya bahwa Yesus adalah Juruselamat, toh mengajarkan bahwa Ia bukanlah Juruselamat untuk semua orang. Yesus, menurut kelompok ini, hanyalah Juruselamat untuk orang Kristen. Orang Islam, Hindu, Budha, dll. memiliki juruselamat sendiri-sendiri. Paulus dengan tegas mengutuk orang-orang seperti ini: “…jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia” (Gal. 1:9).

Ciri kedua adalah Sakramen (Baptisan dan Perjamuan Kudus). Sakramen adalah tanda dan meterai dari karya keselamatan Kristus. Sakramen bukanlah alat-alat yang secara otomatis mencurahkan anugerah kepada orang yang menerimanya, entah dia percaya atau tidak - seperti diajarkan oleh Gereja Katolik Roma pada abad Reformasi. 

Bersama-sama dengan Firman, Sakramen adalah alat-alat anugerah. Roh Kudus mengaruniakan iman melalui pemberitaan Injil dan meneguhkan iman itu oleh pelayanan Sakramen (lihat KH Mi 25, p/j 65, juga Pengakuan Iman Westminster XXV, 3). Pelaksanaan kedua Sakramen ini secara benar – seperti yang diperintahkan Kristus - merupakan ciri dari gereja yang sejati.

Akhir-akhir ini ada orang yang menjadikan roti dan anggur PMK bak obat penawar segala macam penyakit. Gereja Tiberias asuhan  Pariadji adalah contohnya. Di tempat lain, saudara-saudara Kharismatik tertentu mengajarkan bahwa baptisan itu menyelamatkan jika dilakukan dengan cara ‘selam’. Ajaran semacam ini adalah penghinaan terhadap karya Kristus, sebab dengan mengajarkan bahwa baptisan menyelamatkan berarti mengajarkan bahwa karya Kristus belum cukup: harus ditambah dengan ini atau itu. Inilah dua contoh penyimpangan terkini dari hakikat Sakramen.

Ciri yang berikut adalah disiplin. Displin Gereja perlu untuk menjaga kemurnian ajaran dan moral anggota jemaat. Disiplin ibarat ‘marka jalan’ bagi ‘lalu lintas’ iman. Disiplin memperberat langkah menuju dosa. Disiplin juga ibarat lonceng peringatan atau panggilan untuk kembali ke jalan Tuhan. Disiplin bermaksud untuk menjaga seseorang tetap berada pada jalan keselamatan. Itulah yang kita baca dalam 1 Korintus 5:5.

Fasal 29 PIGB menyebutkan bahwa orang-orang Kristen sejati dapat dikenali, ‘dari iman, dan jikalau mereka, setelah menerima satu-satunya Juruselamat Yesus Kristus, menjauhi dosa dan mengejar kebenaran, mengasihi Allah yang sejati dan sesamanya manusia, tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri, dan menyalibkan dagingnya serta segala perbuatannya. Namun, hal itu tidak berarti bahwa tidak ada lagi kelemahan besar pada mereka. Akan tetapi, mereka berjuang melawan kelemahan itu oleh Roh, dalam setiap hari-hari kehidupannya, sambil berlindung terus-menerus pada darah, kematian, sengsara, dan ketaatan Tuhan Yesus. Di dalam-Nya mereka beroleh pengampunan dosa oleh iman kepada-Nya.’

Artinya, disiplin Gereja dimaksudkan untuk menghasilkan orang-orang Kristen berkualitas!  Tetapi sayang, kebanyakan kita senang berbuat dosa, tetapi tidak senang dinasihati. Jika kita didisiplin, kita lebih suka keluar dan masuk ke denominasi yang lain. Kita lebih suka prinsip: ‘kalau bisa digampangkan, mengapa harus dipersulit’. Prinsip ini benar dalam soal tolong-menolong, tetapi tidak dalam hal disiplin. Lebih celaka lagi, ada denominasi yang sama sekali tidak mengenal disiplin Gereja. Alasannya adalah kasih, seolah-olah kasih tidak mengenal disiplin. Padahal Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa justru kasih itu menegur dan mendidik: “… karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak” (Ibr. 12:6, lihat juga ayat 12)

Alkitab berbicara dengan jelas tentang gereja-gereja palsu, atau kumpulan-kumpulan keagamaan yang palsu. Mereka ini memberipersembahan kepada roh-roh jahat, bukan kepada Allah’ (1 Kor.10:20). Mereka ‘ditarik kepada berhala-berhala yang bisu’ (1 Kor.12:2). Alkitab bahkan menulis tentang ‘jemaah Iblis’ (sunagōgē tou satana, Why.2:9; 3:9). Mungkin Yesus menunjuk kepada pertemuan-pertemuan Yahudi yang terdiri dari orang-orang Yahudi yang tidak mempunyai iman yang menyelamatkan. Pertemuan mereka bukan pertemuan pengikut-pengikut Kristus. Karena itu, mereka masih termasuk pada kerajaan kegelapan, kerajaan Iblis.

Sebagai pengikut Kristus, Gereja perlu mengenali diri sendiri secara baik. Iblis, musuh Allah dan Gereja itu, selalu giat bekerja untuk menyesatkan. Ia pandai bersandiwara dengan mengenakan ‘kebiasaan-kebiasaan’ yang sepintas kelihatan alkitabiah. Ciri-ciri Gereja, seperti yang telah dibahas di atas, dapat menolong kita untuk ‘bercermin’ – mengevaluasi aturan dan ajaran Gereja serta moralitas kita sebagai mempelai Kristus.